Home Lingkungan Limapuluh Kota Kembali Dillanda Bencana, DPRD Min...
Limapuluh Kota Kembali Dillanda Bencana,  DPRD Minta Pemda Ambil Langkah Cepat
Lingkungan

Limapuluh Kota Kembali Dillanda Bencana, DPRD Minta Pemda Ambil Langkah Cepat

B

Bakar

Penulis Berita

14 May 2026

29 views

 

Limapuluh Kota-- Sejumlah wilayah di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, kembali dilanda longsor, banjir, dan tanah amblas, akibat hujan deras yang turun sejak Selasa sore (12/5/2026), hingga Rabu dini hari (13/5/2026).

 Anggota DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky,  yang melilihat lokasi longsor di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Rabu pagi (13/5/2026), meminta pemerintah daerah,  segera mengambil langkah cepat, untuk menangani bencana hidrometeorologi ini.

"Kita minta, pemda segera  melakukan langkah tanggap darurat. Mulai dari kaji cepat lokasi dan kerusakan bencana, penyelamatan dan evakuasi, pembersihan lokasi, sampai pemenuhan kebutuhan dasar warga yang melakukan evakuasi secara mandiri," kata Fajar Rillah Vesky.

Jika dampak bencana ini meluas dan dana operasional petugas penanganan bencana terbatas,  Fajar Vesky meminta pemerintah daerah, tidak ragu-ragu menetapkan status tanggap darurat bencana. Guna melegalkan penggunaan dana tak terduga dalam pos APBD 2026 dan mobilisasi bantuan dari banyak pihak.

"Khusus longsor di Situjuah Ladang Laweh, harus segera ditangani. Karena, akses jalan satu-satunya untuk keluar-masuk nagari ini,  tak hanya amblas membentuk lubang mirip sinkhole. Tapi ditimbun material longsor. Sebanyak, 600 Kepala Keluarga dengan total 2.000 jiwa warga terisolasi," kata Fajar Vesky.

Selain di Situjuah Ladang Loweh, bencana hidrometerologi di Nagari Tungkar, membuat warga setempat mengungsi. Kemudian, aliran sungai Batang Sandir atau Batang Air Pondam yang bermuara ke Batang Agam Payakumbuh juga kembali meluap. Merendam areal pertanian dan merusak area lubuk ikan larangan.

"Pemerintah nagar terdampak bencana, tentu sedang mendata kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana ini. Laporan dari nagari dan camat, harus jadi perhatian serius pemda," kata Fajar Rillah Vesky.

Tak hanya mendesak pemda mengambil langkah tanggap darurat, Fajar Vesky mendorong pemda, bisa melakukan penanganan bencana dari hulu ke hilir atau secara komperhensif. Jangan parsial, sporadis, dan reaktif saat bencana saja.

"Banyak pakar dan ahli lingkungan sudah menyebut, bahwa bencana hidrometerologi yang terjadi di Limapuluh Kota, bukan masalah lokal saja. Tapi terkait dengan ekosistem atau anomali iklim. Maka harus ada penanganan jangka panjang dan mitigasi," kata Fajar Vesky. (***)

Jalan di Limapuluh Kota Amblas Mirip Sinkhole,  DPRD Minta Pemda Ambil Langkah Cepat

Limapuluh Kota-- Salah satu ruas jalan di Kabupaten Limapuh Kota,  Sumatera Barat  dilaporkan amblas setelah diguyur hujan deras, Selasa malam (12/5/2026). Jalan yang amblas dan membuat lubang mirip Sinkhole itu adalah ruas jalan kabupaten Situjuah Ladang Laweh-Batas Batu Sangkar di kawasan Lokuak Pangorangan, Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.

Anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang meninjau jalan tersebut, Rabu pagi (13/5/2026), meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat. Karena jalan yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk Nagari Situjuah Ladang Laweh ini, sudah tak bisa lagi dilewati. 

"Jalan kabupaten ini, tak hanya amblas dan berlubang mirip sinkhole. Tapi juga tertimbun material longsor. Dampaknya, sebanyak 600 KK dengan total 2.000-an jiwa warga terisolasi. Sekolah libur.  Ekonomi nyaris lumpuh. Jalan ini harus segera diperbaiki," kata Fajar Rillah Vesky.

Dia juga meminta Pemkab Limapuluh Kota, segera mengambil langkah tanggap darurat, untuk menangani longsor, banjir, dan tanah amblas yang kembali melanda daerah ini. Akibat hujan deras yang turun sejak Selasa sore (12/5/2026), hingga Rabu dini hari (13/5/2026).

"Kita minta, pemda segera melakukan langkah tanggap darurat. Mulai dari kaji cepat lokasi dan kerusakan bencana, penyelamatan dan evakuasi, pembersihan lokasi, sampai pemenuhan kebutuhan dasar warga yang melakukan evakuasi secara mandiri," ujar Fajar Rillah Vesky.

Jika dampak bencana ini meluas dan dana operasional petugas penanganan bencana terbatas, Fajar Vesky meminta pemerintah daerah, tidak ragu-ragu menetapkan status tanggap darurat bencana. Guna melegalkan penggunaan dana tak terduga dalam pos APBD 2026 dan mobilisasi bantuan dari banyak pihak.

Selain di Situjuah Ladang Loweh, bencana hidrometerologi di Nagari Tungkar, membuat warga setempat mengungsi. Kemudian, aliran sungai Batang Sandir atau Batang Air Pondam yang bermuara ke Batang Agam Payakumbuh juga kembali meluap. Merendam areal pertanian dan merusak area lubuk ikan larangan. Kemudian, ada juga jalan pertanian longsor. 

"Pemerintah nagar terdampak bencana, tentu sedang mendata kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana ini. Laporan dari nagari dan camat, harus jadi perhatian serius pemda," kata Fajar Rillah Vesky.

Tidak hanya mendesak pemda mengambil langkah tanggap darurat, Fajar Vesky mendorong pemda, bisa melakukan penanganan bencana dari hulu ke hilir atau secara komperhensif. Jangan parsial, sporadis, dan reaktif saat terjadi bencana saja.

"Banyak pakar dan ahli lingkungan sudah menyebut, bahwa bencana hidrometerologi yang terjadi di Limapuluh Kota, bukan masalah lokal saja. Tapi terkait dengan ekosistem atau anomali iklim. Maka harus ada penanganan jangka panjang dan mitigasi," kata Fajar Vesky. (***)

2.000 Warga Situjuah Ladang Laweh Terisolasi, DPRD Desak Pemda Kirim Alat Berat

Limapuluh Kota-- Sehanyak 600 KK atau 2.053 warga Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, dilaporkan terisolasi, Rabu pagi (13/5/2026). Mereka tak bisa keluar-masuk kampung itu dengan kendaraan karena akses jalan satu-satunya tertimbun material longsor dan amblas membentuk lubang menyerupai sinkhole, akibat hujan deras, Selasa malam (12/5/2026).

"Iya. Sebanyak 600 Kepala Keluarga atau 2.000 jiwa warga kami, terisolasi akibat jalan tertimbun longsor dan amblas. Kendaraan tak bisa keluar-masuk. Kami minta bantua pemda," kata Wali Nagari Situjuah Ladang Laweh, Mawardi Dt Sinaro Paneh, bersamaiKetua Bamus Ustad Yulius, Bhabinkamtibmas Aiptu Rinaldi, Babinsa dan sejumlah tokoh masyarakat.

Anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang meninjau jalan tersebut, Rabu pagi (13/5/2026), meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat. Karena jalan yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk Nagari Situjuah Ladang Laweh ini, sudah tak bisa lagi dilewati. 

"Jalan kabupaten ini, tak hanya amblas dan berlubang mirip sinkhole. Tapi juga tertimbun material longsor. Dampaknya, sebanyak 600 KK dengan total 2.000-an jiwa warga terisolasi. Sekolah libur. Ekonomi nyaris lumpuh. Jalan ini harus segera diperbaiki," kata Fajar Rillah Vesky.

Dia juga meminta Pemkab Limapuluh Kota, segera mengambil langkah tanggap darurat, untuk menangani longsor, banjir, dan tanah amblas yang kembali melanda daerah ini. Akibat hujan deras yang turun sejak Selasa sore (12/5/2026), hingga Rabu dini hari (13/5/2026).

"Kita minta, pemda segera melakukan langkah tanggap darurat. Mulai dari kaji cepat lokasi dan kerusakan bencana, penyelamatan dan evakuasi, pembersihan lokasi, sampai pemenuhan kebutuhan dasar warga yang melakukan evakuasi secara mandiri," ujar Fajar Rillah Vesky.

Jika dampak bencana ini meluas dan dana operasional petugas penanganan bencana terbatas, Fajar Vesky meminta pemerintah daerah, tidak ragu-ragu menetapkan status tanggap darurat bencana. Guna melegalkan penggunaan dana tak terduga dalam pos APBD 2026 dan mobilisasi bantuan dari banyak pihak.

Selain di Situjuah Ladang Loweh, bencana hidrometerologi di Nagari Tungkar, membuat warga setempat mengungsi. Kemudian, aliran sungai Batang Sandir atau Batang Air Pondam yang bermuara ke Batang Agam Payakumbuh juga kembali meluap. Merendam areal pertanian dan merusak area lubuk ikan larangan. Kemudian, ada juga jalan pertanian longsor. 

"Pemerintah nagar terdampak bencana, tentu sedang mendata kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana ini. Laporan dari nagari dan camat, harus jadi perhatian serius pemda," kata Fajar Rillah Vesky.

Tidak hanya mendesak pemda mengambil langkah tanggap darurat, Fajar Vesky mendorong pemda, bisa melakukan penanganan bencana dari hulu ke hilir atau secara komperhensif. Jangan parsial, sporadis, dan reaktif saat terjadi bencana saja.

"Banyak pakar dan ahli lingkungan sudah menyebut, bahwa bencana hidrometerologi yang terjadi di Limapuluh Kota, bukan masalah lokal saja. Tapi terkait dengan ekosistem atau anomali iklim. Maka harus ada penanganan jangka panjang dan mitigasi," kata Fajar Vesky. (***)

Bagikan:

Berita Terkait